Langsung ke konten utama

Cinta dan Perkawinan

Memilih Pasangan

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Maka dari itu harus benar-benar diperhitungkan ketika memilih pasangan yang baik. Bila ingin pintar, seseorang harus rajin belajar, bila ingin kaya seseorang harus berhemat, begitu pula tentang pasangan hidup. Bila menginginkan pasangan hidup yang baik maka kita juga harus baik.

Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat dengan mudah kita peroleh tanpa adanya pengorbanan. Segala sesuatu ada harga-nya termasuk bila ingin mendapatkan pasangan hidup yang baik. Ya, dimulai dari diri sendiri. Bila kita bercita-cita untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik, maka kita sendiri harus baik. Percayalah, Tuhan telah memasangkan manusia sesuai dengan karakter dan derajat mereka masing-masing. Manusia yang baik hanyalah untuk manusia yang baik pula, begitu pula sebaliknya.

Julianto Simanjuntak dalam bukunya, menekankan bahwa dalam memilih pasangan harus ada kesepadanan alias kecocokan. Karena ketika pada awal-awal berpacaran, kita sering lupa mengenali kepribadian dan latar belakang pasangan. Jadi, cinta itu bukan hanya sekedar mencintai atau dicintai. Tapi juga dituntut memahami latar belakang dan kepribadian pasangan anda dengan sepenuhi hati


Agung Candra Setiawan
69,704 views   |   245 shares
Bukan bermaksud melarang setiap dari Anda untuk memiliki pasangan hidup, menikah adalah hak setiap orang, namun apakah Anda yakin sudah saling mengenal dengan calon pasangan Anda, apakah Anda yakin bahwa dia adalah pasangan hidup Anda yang tepat?. Menentukan orang yang tepat sebagai pasangan hidup Anda, menentukan seberapa bahagia kehidupan pernikahan Anda nantinya.

Rasa cinta memang diciptakan oleh Tuhan, namun perasaan cinta di saat, di tempat dan dengan orang yang tidak tepat, justru dapat mencelakakan Anda sendiri. Kendalikan rasa cinta Anda terhadap calon pasangan Anda, jangan biarkan rasa cinta Anda membutakan akal serta pikiran sehat Anda.

Lalu pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan agar dapat menemukan seorang pendamping hidup yang tepat? Ada kejadian unik serta lucu yang saya alami, ketika berlibur bersama teman-teman di Bali. Tour guide kami mengatakan, waktu itu kebanyakan dari rombongan kami 90% adalah wanita, beliau menasihati dengan sedikit bercanda, bahwa untuk Anda para wanita yang ikut dalam rombongan tur ini, jika ingin mencari suami orang bule jangan sekali-kali mencarinya di Bali, carilah di Jogja. Sontak semua rombongan tur yang kebanyakan wanita langsung protes dan tertawa. Salah seorang bertanya, kenapa seperti itu? Tour guide kami menjelaskan, bahwa kebanyakan pria asing yang berlibur di Bali memiliki reputasi yang kurang baik, tapi jika Anda mendapatkannya di Jogja lain ceritanya, para pria asing yang berlibur di jogja rata-rata terkenal sopan dan memiliki reputasi yang baik. Para peserta manggut-manggut berusaha memahami penjelasan sang tur guide kocak tersebut. Bagi saya hal tersebut tentu tidak benar, bahwa pria asing yang berlibur di Bali semuanya buruk. Kita tidak boleh menghakimi orang yang kita tidak kenal, hanya dilihat dari sisi luarnya saja, itu sangat tidak adil.

Tentu saja adalah hak setiap orang untuk mendapatkan yang terbaik sebagai pendamping hidupnya. Berhati-hati serta tidak terburu-buru menentukan calon pasangan hidup kita, bukan berarti mengajarkan kita untuk menjadi pemilih.

Pertanyaannya, apakah Anda ingin bahagia dengan pasangan Anda, apakah Anda ingin rumah tangga Anda nantinya selalu harmonis. Di sinilah saatnya Anda harus dituntut untuk lebih dewasa dalam berpikir serta dewasa dalam mengambil keputusan.

Di awal-awal perkenalan Anda dengan seseorang, ketika Anda masih remaja, Anda pasti begitu yakin dan bersemangat bahwa dialah yang terbaik. Seiring bertambahnya usia, serta tingkat pengalaman dan pemahaman seseorang, caranya berpikir dalam menentukan calon pasangan hidup pasti berangsur-angsur berubah.

Seorang teman memberikan kata-kata hikmah berikut ini kepada saya, semoga berguna untuk Anda sekalian yang saat ini sedang mencari atau sedang menjalin hubungan denga seseorang. Harapannya, bahwa setiap orang nantinya tidak akan menyesal dengan keputusannya, dapat memiliki kebahagiaan yang sejati, bersama dengan pasangannya masing-masing dalam sebuah ikatan pernikahan yang sakral:

"JANGAN TERBURU-BURU JATUH CINTA"

Tidak perlu terburu-buru untuk jatuh cinta,

Jika pada kenyataannya kita masih terlalu awam untuk mengerti apa makna cinta yang sesungguhnya.

Tidak perlu terburu-buru untuk jatuh cinta,

Jika dalam diri kita masih tersimpan hawa nafsu yang justru akan merusak kefitrahan cinta.

Tidak perlu terburu-buru untuk jatuh cinta,

Jika pada akhirnya kita hanya terbelenggu akan buaian-buaian keindahan sesaat.

Tidak perlu terburu-buru untuk jatuh cinta,

Jika di balik keindahan cinta justru akan membutakan mata hati kita.

Tidak perlu terburu-buru untuk jatuh cinta,

Jika pada kenyataannya masih banyak kita lihat mereka dengan bangganya memamerkankan cinta belum halalnya.

Dan tidak perlu terburu-buru untuk jatuh cinta,

Jika kita belum terlalu kuat iman untuk menjalaninya yang justru memudarkan cinta kita kepada-Nya.

Bukan kita tak ingin untuk mendapatkannya,

Bukan kita tak suka untuk menjalaninya,

Bukan pula kita merasa sok suci akan diri kita.

Kita hanya bermaksud ingin menjaga cinta dengan sebaik-baiknya,

Agar cinta kita tak tertambatkan dengan sia-sia sebelum waktunya.

Lebih baik,

Kita bersabar dalam sebuah penantian,

Ketika saatnya telah tiba nanti,

Ketika hati kita telah siap dan kuat menjalaninya.

Kita hanya menunggu waktu yang tepat ketika memiliki cinta,

Serta mendapat orang yang tepat untuk kita miliki,

Dan juga beharap sebuah kehalalan saat menjalaninya.

Hubungan Dalam Perkawinan

Pada umumnya salah satu tanda kegagalan suami-istri dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai begitu mudah.
Masalah diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga antara lain:
·         Kesulitan ekonomi keluarga yang kurang tercukupi.
·         Perbedaan watak.
·         Temperamen dan perbedaan kepribadian yang sangat tajam antara  suami dan istri.
·         Ketidakpuasan dalam hubungan seks.
·         Kejenuhan rutinitas.
·         Hubungan antara keluarga besar yang kurang baik.
·         Adanya istilah WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain).
·         Masalah harta warisan.
·         Menurunnya perhatian kedua belah pihak.
·         Domonasi dan intervensi orang tua atau mertua.
·         Kesalahpahaman antara kedua belah pihak.
Dari salah satu masalah diatas yaitu kesalahpahaman yang menyebabkan pasangan menjadi tersinggung, sehingga terkadang memicu adanya perceraian, merupakan masalah yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Karena kesalahpahaman itulah yang terkadang pasangan enggan untuk membuka komunikasi dengan pasangannya yang kemudian menimbulkan misskomunikasi. Tanpa mereka sadari dengan keadaan seperti itu malah akan membuat mereka sulit dalam menghadapi problem apapun. Komunikasi yang intern dan baik akan melahirkan saling keterbukaan dan suasana keluarga yang nyaman.
Allah juga memerintahkan kepada suami-istri untuk selalu berbuat baik.
Suami dan istri sering beranggapan bahwa masalah yang timbul akan
selesai dengan sendirinya, asalkan bersabar dan menyediakan waktu yang panjang.
Namun kenyataannya masalah yang didiamkan bukan membaik, malah memburuk seiring berjalannya waktu yang lama. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata, kareana masalah menjadi seperti benang kusut dan tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Tabungan cinta cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah dengan berkurangnya cinta dan kasih sayang, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan makin menyesuaikan diri dalam kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain antara suami dan istri sudah menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya tapi tidak dilakukan sehingga dapat menimbulkan perceraian.

PENYESUAIAN DAN PERTUMBUHAN DALAM PERKAWINAN

Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, tidak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antar keluarga kedua belah pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian.
Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.


Perceraian dan pernikahan kembali
            Pernikahan bukanlah akhir kisah indah bak dongeng cinderella, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Menikah Kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Apa yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.

Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.

Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.

Alternatif selain Pernikahan

Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang. Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.

Banyak pria menempatkan pernikahan pada prioritas kesekian, sedangkan karir lebih mendapat prioritas utama. Dengan hidup melayang, mereka bisa lebih konsentrasi dan fokus pada pekerjaan, sehingga promosi dan kenaikan jabatan lebih mudah diperoleh. Biasanya, pelajang lebih bersedia untuk bekerja lembur dan tugas ke luar kota dalam jangka waktu yang lama, dibandingkan karyawan yang telah menikah.

Melajang adalah sebuah sebuah pilihan dan bukan terpaksa, selama pelajang menikmati hidupnya. Pelajang akan mengakhiri masa lajangnya dengan senang hati jika telah menemukan seorang yang telah cocok di hati.



Sumber :
http://21juli1991.blogspot.co.id/2013/05/cinta-dan-perkawinan.html
http://sistarim.blogspot.co.id/2015/05/cinta-dan-perkawinan-kesehatan-mental.html
https://nadjaneruda.wordpress.com/2015/05/03/cinta-dan-perkawinan/
Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)
Miftachr, 2010. Pengertian Munakahat Pernikahan, Artikel, (Tersedia online di http://miftachr.blog.uns.ac.id/2010/04/pengertian-munakahat-pernikahan/ diakses pada tanggal 6 Mei 2011).
Julianto,Simanjuntak.2012. Banyak Cocok Sedikit Cekcok, Seni Memilih Teman Hidup dan Berpacaran Dewasa.Jakarta:Yayasan Peduli Konseling Nusantara (PELIKAN)

http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/lima.tahap.dalam.perkawinan/001/007/140/184/puasa+saat+hamil/Kehamilan/02/5

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23408/3/Chapter%20II.pdf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stress

A. Arti Penting Stress Menurut Lazarus (1976) stres adalah suatu keadaan psikologis individu yang disebabkan karena individu dihadapkan pada situasi internal dan eksternal. Stress juga dibutuhkan dalam kehidupan ini, jika seseorang tidak pernah mengalami stress hidupnya akan hampa, tidak ada yang namanya tantangan. Stress tidak berarti negatif (distress), stresspun ada yang bersifat positif (uestress) untuk menyeimbangkan proses kehidupan kita. Efek-Efek stress menurut hans selye Menurut Hans Selye, ahli endokrinologi terkenal di awal 1930 tidak semua jenis stres bersifat merugikan. Berikut adalah beberapa efek dari stress: 1. Local Adaptation Stress adalah ketika tubuh menghasilkan banyak respon setempat terhadap stres. Respon setempat ini contohnya seperti pembekuan darah, penyembuhan luka, akomodasi cahaya, dan masih banyak lagi. Responnya berlangsung dalam jangka yang sangat pendek. Karakteristik dari LAS adalah respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan s...

Self Directed Changes

Self Directed Change Menurut teori kompetensi, langkah yang merupakan elemen mendasar untuk mengajarkan atau menigkatkan kompetensi orang dewasa (Competence At Work, 1993). Biasanya disebut dengan istilah "Self Directed Change Theory". Teori ini mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengubah diri ke arah yang lebih baik dari kenyataan hidup yang kurang mendukung, katakanlah semacam stres. Menurut teori ini juga, orang dewasa akan berubah kalau berada dalam kondisi di bawah ini: 1. merasa tidak puas dengan kondisi aktual yang dihadapi (actual) 2. punya gambaran yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin diraih/dikehendaki (ideal) 3. punya konsep yang jelas tentang apa yang akan dilakukan untuk bergerak dari kondisi aktual menuju kondisi ideal (action step) Self directed Change juga memiliki beberapa tahapan, seperti: 1. meningkatkan kontrol diri Hurlock mengatakan "kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu-individu mengendalikan emosi serta doronga...

Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan

Penyesuaian Diri Menurut Kartono, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri. Aspek-aspek Penyesuaian Diri  Menurut Fromm dan Gilmore (dalam Desmita, 2009:195) ada empat aspek kepribadian dalam penyesuaian diri yang sehat antara lain : a. Kematangan emosional, yang mencakup aspek-aspek : Kemantapan suasana kehidupan emosional Kemantapan suasana kehidupan kebersamaan dengan orang lain Kemampuan untuk santai, gembira dan menyatakan kejengkelan Sikap dan perasaan terhadap kemampuan dan kenyataan diri sendiri b. Kematangan intelektual, yang mencakup aspek-aspek : Kemam...